Laporan Penentuan Sifat Sifat Senyawa Kovalen, Polar, Senyawa Ionik

      Comments Off on Laporan Penentuan Sifat Sifat Senyawa Kovalen, Polar, Senyawa Ionik

I. Tujuan Percobaan

Menentukan sifat-sifat senyawa kovalen, kovalen polar dan senyawa ionik melalui

proses pelarutan senyawa tersebut dengan pelarut tertentu.

II. Dasar teori

Senyawa memiliki sifat yang berbeda beda. Sifat tersebut dikategorikan menjadi

kovalen non-polar, kovalen polar, dan senyawa ionik. Masing masing sifat

senyawa akan menggambarkan pergerakan elektron yang berbeda. Elektron

berpindah karena ketidaksetaraan antara dua atom. Atom yang akan membentuk

ikatan baru akan memindahkan elektron untuk bisa membentuk ikatan atom H.

Sifat senyawa dari kovalen non-polar adalah sebuah ikatan yang terbentuk atas

bergeraknya elektron. Senyawa dengan sifat kovalen non-polar akan saling

membagi elektron untuk melengkapi semua rangkap kosong. Ikatan dari atom H

yang terbentuk pada saat terjadinya ikatan kovalen non-polar memiliki

elektronegativitas yang setara. Ikatan kovalen non-polar juga merupakan ikatan

yang kuat dan membutuhkan energi yang besar untuk dipecah. Ini dikarenakan

pembagian elektron yang merata pada kedua atom (Nappi, 2013).

Sifat senyawa kovalen polar adalah sifat ketika elektron tidak seimbang.

Pembagian elektron yang tidak merata ini akan menyebabkan senyawa dengan

ikatan kovalen polar. Ikatan kovalen polar akan memiliki elektronegativitas yang

berbeda. Ini terjadi karena pembagian elektron antara kedua atom akan tidak

seimbang. Satu senyawa akan memiliki elektron yang lebih banyak, sehingga

elektronegativitas juga berbeda diantara kedua senyawa (Segura, 2016). Sifat

kovalen pada senyawa memiliki titik didih dan titik beku yang rendah. Selain itu,

ikatan kovalen juga memiliki sifat polaritas dan juga lebih mudah terbakar.

III. Cara Kerja :

1. Sediakan 6 tabung reaksi yang bersih dan kering

2. Masukkan 2-3 ml pelarut air ke dalam masing-masing tabung reaksi

Kemudian masukkan sejumlah kecil bahan-bahan yang akan diuji

kelarutannya ke dalam masing-masing tabung reaksi dan kocok campuran

tersebut.

Amati apa yang terjadi ! Jelaskan fenomena tersebut!

3. Apabila zat tidak larut tambahkan 2 ml pelarut lalu kocok lagi, amati apa

yang terjadi! Jelaskan!

4. Lakukan uji kelarutan senyawa tersebut untuk pelarut yang lainnya.

5. Jelaskan perbedaan yang ada antara pelarut-pelarut yang digunakan!

6. Buatlah tabel untuk memudahkan pengelompokan senyawa tersebut

berdasarkan sifat dan kelarutannya dalam setiap pelarut tersebut

7. Apa yang dapat anda simpulkan dari percobaan ini ?

IV. Alat dan Bahan :

A. Alat yang digunakan :

– Tabung reaksi             – Gelas Beaker

– Pipet tetes               – Pipet ukur 5 ml

B. Bahan yang digunakan :

– Senyawa yang diuji :

Asam asetat pekat; Natrium-sitrat; minyak goreng; CuSO4; glyserin; Naftalen

– Pelarut :

Akuades; etanol; kloroform dan heksana

IV. Pembahasan

Praktikum ini terdiri atas 6 zat terlarut dan juga 4 senyawa pelarut. Senyawa pertama adalah akuades. Akuades dapat melarutkan semua senyawa yang memiliki sifat sejenis. Senyawa terlarut yang memiliki sifat polar seperti asam asetat, Na-Citrat, CuSO4, dan gliserin merupakan senyawa yang dapat larut dalam air. Ini karena semua senyawa tersebut merupakan senyawa yang polar yaitu sesuai dengan yang disebutkan dari dasar teori.

Berdasarkan data yang diperoleh, ada satu faktor yang mempengaruhi larutan suatu senyawa. Faktor utama adalah jumlah dari senyawa pelarut yang digunakan untuk melarutkan zat terlarut. Beberapa hasil data membuktikan bahwa senyawa dengan sifat yang sama tidak bisa larut. Ini dikarenakan kurangnya jumlah zat pelarut untuk melarutkan senyawa.

Data yang dihasilkan perlarut akuades sesuai dengan teori dimana senyawa polar seperti Na-Sitrat, CuSO4, dan glyserin dapat larut dalam akuades. Ada 2 senyawa non polar yang tidak dapat larut dalam akuades yaitu minyak goreng dan naftalen. Kedua senyawa ini tidak dapat larut karena memiliki sifat senyawa yaitu non polar. Sehingga kedua senyawa terlihat mengambang diatas permukaan air.

Etanol adalah pelarut kedua dalam percobaan ini dan memiliki sifat polar dan non polar. Etanol melarutkan larutan yang bersifat polar seperti asam asetat dan juga gliserin. Namun, ada larutan polar yang tidak berhasil dilarutkan oleh etanol. Ini dimungkinkan karena ada ikatan yang tidak bisa diputuskan oleh etanol. Sehingga ikatan baru tidak bisa dibentuk dan tidak terlarut. Sifat ini terjadi pada zat terlarut  Na-citrat dan CuSO4.

Sesuai dengan teori sifat senyawa, etanol seharusnya dapat melarutkan zat kovalen non polar seperti minyak goreng dan naftalen. Hasil percobaan mengindikasikan bahwa terjadi anomali pada data yang dihasilkan. Penyebab dari anomali dimungkinkan karena kurangnya volume zat pelarut. Etanol harus ditambahkan dalam jumlah yang lebih besar untuk melarutkan zat non polar seperti minyak dan naftalen.

Sekian adalah laporan lengkap mengenai senyawa kovalen, kovalen polar, kovalen non polar, dan senyawa ionik. Sampai jumpa di artikel Academia selanjutnya. Jangan lupa untuk membaca konten konten terbaik dari https://academia.co.id.